Enterprise Proxmox Custom Dashboard & HA Infrastructure
Proyek ini bukan sekadar aplikasi antarmuka web, melainkan sebuah ekosistem infrastruktur IT end-to-end. Dari bare-metal hypervisor hingga microservices Go/Rust dan Web Dashboard yang aman.
1. Bare-Metal & Cloud Infrastructure (DevOps / SysAdmin)
Bagian ini menyoroti kemampuan DevOps dan Systems Engineering dari level perangkat keras hingga jaringan:
- Proxmox VE Provisioning: Merakit, menginstal, dan mengonfigurasi server bare-metal fisik dengan Proxmox VE sebagai hipervisor (Type-1). Mengelola alokasi resource CPU, Storage (LVM/ZFS), dan Virtual Networking (Linux Bridge).
- Docker Swarm HA Cluster: Mem-provisioning 3 buah Virtual Machine berbasis Debian dan merangkainya menjadi sebuah klaster Docker Swarm. Desain ini menjamin High Availability (HA) aplikasi; jika satu node mati, layanan otomatis beralih tanpa downtime.
- Secure Edge Routing (Cloudflare & NGINX): Mengimplementasikan NGINX sebagai Reverse Proxy internal dan memadukannya dengan Cloudflare Tunnels (Zero Trust) untuk perlindungan DDoS tingkat enterprise tanpa perlu membuka port-forwarding (NAT).
- Mesh VPN (Tailscale): Mengintegrasikan Tailscale untuk menciptakan jaringan pribadi virtual (overlay network) terenkripsi WireGuard, mengamankan akses manajemen server (SSH) dan API dari mana saja.
- CI/CD Pipeline: Mengotomatiskan siklus hidup pengembangan (SDLC) yang memicu build image Docker dan melakukan rolling-update ke klaster Swarm secara nirkontak (zero-touch deployment).
2. Core API (Golang Backend)
Layanan backend utama yang bertindak sebagai Gateway dan lapis keamanan di depan Proxmox.
- Proxmox API Wrapper: Menerjemahkan permintaan Dasbor menuju endpoint internal Proxmox dengan memanfaatkan API Token Authentication guna menghindari pengeksposan kata sandi root.
- JWT Security & Session: Membungkus sesi pengguna menggunakan HttpOnly Cookies dan JWT yang kebal terhadap eksploitasi XSS dari sisi frontend.
- Ticket Provisioning: Menangani alur penerbitan tiket sesi WebSocket Proxmox untuk VNC dan Terminal, mengatasi validasi Strict Schema bawaan Proxmox secara dinamis.
3. VNC & Terminal Proxy (Rust Backend)
Membangun layanan perantara (Proxy) kustom menggunakan Rust (tokio dan axum) untuk menembus restriksi CORS dan limitasi keamanan WebSocket Proxmox.
- High-Performance WebSocket Piping: Membuka jembatan asinkron (bidirectional) untuk meneruskan aliran data biner (VNC) dan teks terminal (xterm) antara Klien dan Proxmox secara real-time.
- Subprotocol JWT Verification: Memvalidasi token JWT langsung dari siklus jabat tangan (handshake) awal WebSocket, mengamankan proksi dari koneksi ilegal sebelum socket TCP resmi terbentuk.
4. Frontend Web (React + Vite + Bun)
Antarmuka visual responsif berkonsep Glassmorphism.
- noVNC Integration: Mengintegrasikan kanvas noVNC untuk merender tampilan Desktop/GUI jarak jauh secara langsung di peramban web.
- Xterm.js Mobile-First CLI: Menciptakan emulator terminal Tmux-style yang dinamis (auto-fit). Dilengkapi dengan Virtual Keyboard Hacks (Esc, Tab, Ctrl+C) khusus pengguna ponsel.
- Bun Build System: Memigrasikan arsitektur Node.js (npm) yang lambat ke manajer paket Bun untuk memangkas waktu kompilasi Docker secara drastis (di bawah 5 detik).
Highlight Teknis Eksekutif
"Proyek ini melampaui sekadar pengembangan perangkat lunak; ini tentang merancang ekosistem yang tangguh. Saya membangun fondasinya mulai dari merakit server bare-metal Proxmox, mengamankan akses jaringan via Tailscale dan Cloudflare Tunnels, hingga menjamin High-Availability (HA) menggunakan klaster Docker Swarm di atas 3 mesin Debian.
Di sisi perangkat lunak, tantangan terbesar adalah mengorkestrasi koneksi WebSocket mentah untuk Terminal & VNC. Saya merancang Rust Proxy berkinerja tinggi untuk memecahkan restriksi keamanan Proxmox, sembari memastikan CI/CD pipeline saya mampu melakukan zero-downtime deployment langsung ke dalam klaster Swarm setiap kali ada perubahan pada microservices Golang maupun React Frontend."